Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Oktober 2012

Bahaya Tidur Dengan TV Menyala

Tidur merupakan kebutuhan alami manusia. Dengan tidur yang berkualitas, metabolisme tubuh ditata kembali. Kita juga memiliki kesempatan untuk melakukan regenerasi / mengganti sel-sel tubuh yang mati.
 
Nah tahukah Anda, bagaimana cara mendapatkan tidur yang baik dan berkualitas? Salah satu caranya adalah dengan memadamkan lampu di waktu tidur normal (9 malam hingga 8 pagi) demi mendapatkan hormon melatonin secara maksimal.

Hormon Melatonin
Adalah zat yang dihasilkan oleh kelenjar pineal didalam otak yang pembentukannya dipicu oleh gelap dan berfungsi mengatur bioritme atau irama tubuh dalam hal pengaturan tidur.
Kadarnya paling tinggi ditemukan menjelang pagi hari sekitar jam 02.00 – 04.00 dan paling rendah di sore hari. Ini juga menjawab kenapa orang semakin bertambah usia semakin sedikit tidurnya, karena secara alamiah, produksi hormon melatonin ini juga akan mengalami penurunan, sejalan dengan pertambahan usia manusia.
Penurunan yang drastis biasanya terjadi sekitar usia 40 tahun sehingga dengan menurunnya hormon ini maka kualitas tidurpun akan menurun dan sering berefek pada kesulitan tidur.
Manfaat lain melatonin adalah sebagai anti oksidan yang larut dalam lemak dan air, meningkatkan imun tubuh menimbulkan relaksasi otot dan membantu meningkatkan mood dan menghilangkan ketegangan. Jadi sebaiknya kalau tidur lampu dimatikan agar bisa memaksimalkan produksi melatonin.
Memang, ada sebagian orang yang merasa tidak nyaman, atau bahkan tidak dapat tidur pada kondisi gelap. Namun jika melihat manfaat atau dampaknya, hal ini perlu diperhatikan juga. Antara lain dengan tidak tidur di bawah pencahayaan langsung (dari lampu kamar), terutama bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Matikan Televisi dan Musik

Kebiasaan tidur sambil mendengarkan musik, atau menonton televisi sampai tertidur, atau membiarkan lampu di ruangan menyala terang, memang sulit dihilangkan dan menurut sebagian orang kondisi seperti itu membuat mereka menjadi lebih cepat tertidur.
Tetapi pada kenyataannya setelah terbangun mereka merasa lebih tegang (stress). Bahkan ada yang merasa seperti tidak tidur semalaman.
Penjelasannya :
Pada saat kita tidur sebetulnya otak tidak pernah tidur. Otak selalu menjalankan aktivitasnya walaupun tidak sesibuk seperti di saat bangun, yaitu menjalankan sistem metabolisme tubuh.
Pada malam hari, seiring menurunnya aktivitas tubuh, ritme gelombang otak pun mengalami penurunan. Namun apabila kita tidur sambil mendengarkan musik, televisi dalam keadaan hidup atau lampu ruangan sedang menyala terang, maka gelombang suara atau cahaya yang dipancarkan oleh peralatan tersebut tetap diterima oleh indera pendengaran dan penglihatan kita.
Gelombang suara diterima oleh alat pendengaran di dalam telinga dan gelombang cahaya tetap dapat menembus kelopak mata dan diterima oleh retina dan lensa mata. Gelombang-gelombang tersebut akan diteruskan ke otak kita. Otak yang harusnya beristirahat akan kembali terangsang untuk bekerja dan mengolah informasi yang masuk.
Apabila hal ini berlangsung sepanjang malam, berarti kita hanya tidur menurut tubuh luar, tetapi tidak menurut otak. Otak akan terus bekerja mengolah informasi yang masuk tersebut. Jadi jangan biarkan otak Anda kelelahan karena harus tetap bekerja pada malam hari, sedangkan di siang hari otak juga akan diperas oleh kegiatan rutin kita.

Posted By Renald RHK05.44

Kala Konsentrasi Pelajar Buyar Akibat Fantasi Mesum BF

Filled under:

 
Jakarta, Remaja punya rasa ingin tahu yang besar, salah satunya untuk urusan seks. Banyak remaja yang kemudian mencari tahu secara mandiri lewat pornografi. Sayangnya, rasa ingin tahu yang tak terkontrol bisa berbuah pada kecanduan dan berakibat fatal. Konsentrasi dan pikiran pun buyar karena di otaknya hanya berisi lamunan mesum.

"Remaja musti belajar, berolahraga, melakukan hobi dan melaksanakan kegiatan spiritual. Bukan tidak mungkin jika hal-hal positif dalam hidup jadi terbengkalai akibat pornografi," kata Dr. Andri Wanananda MS, seksolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta ketika dihubungi detkHealth, Rabu (17/10/2012).

Sebuah penelitian yang dilakukan di Kanada di tahun 2008 menemukan bahwa semua pria dewasa ternyata pernah menonton pornografi. Yang mengejutkan, kebiasaan itu dimulai pertama kali saat rata-rata usia pria 10 tahun. Pada usia remaja, pornografi paling berpotensi menyebabkan gangguan otak.

Dalam setiap tahap perkembangan umur, otak manusia menglami perubahan fungsi. Ketika masih bayi dan anak-anak, manusia banyak menggunakan bagian otak primitifnya yang mengandalkan naluri. Menjelang remaja, otak bagian belakang lebih banyak berfungsi. Ketika dewasa, otak depannya yang lebih aktif.

Otak bagian belakang hanya bertugas menerima informasi tanpa melalui proses penyaringan atau analisis di bagian otak depan. Ketika seorang remaja melihat atau mendengar sesuatu yang berbau porno, semua rangsangan itu akan langsung masuk ke otak belakang tanpa tersaring.

Ketika rangsangan masuk, otak akan mengeluarkan cairan atau zat neurotransmiter yang membuat nafsu atau libido meningkat. Ketika lebih banyak informasi pornografi yang masuk ke otak, fungsi otak pun lebih banyak teralih pada bagian belakang. Akibatnya, bagian otak lainnya menjadi kurang aktif, terutama otak bagian depan yang seharusnya mulai diasah sejak remaja.

"Bagian erotiknya jadi berlebihan karena yang terus menerus diasah kan bagian itu terus. Akibatnya dapat mengganggu pusat-pusat lain di otak yang sangat penting bagi kehidupan, misalnya pusat keratifitas," terang dr Andri.

Semakin sering otak belakang dipakai dan semakin jarang otak depan dipakai. Akhirnya fungsi kognitif dan kecerdasan dapat terganggu. Hal ini kemudian dapat mengganggu proses kemampuan berpikir remaja.

Untuk membentengi remaja dari efek buruk pornografi, dr Andri menuturkan bahwa pendidikan keluarga, pendidikan spiritual maupun pendidikan formal di sekolah amatlah penting. Kecanduan pornografi sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan pemahaman mental seseorang.

"Kalau anak soleh, ikut kegiatan agama atau taat beribadah, itu akan menjadi filter atau penyaring. Yang penting adalah pendidikan keluarga dan pendidikan moral lewat agama. Anak-anak yang kondisi rumahnya broken home, tidak dapat pendidikan agama dan spitritual, filternya tidak begitu bagus. Akibatnya jadi tidak bisa membedakan mana yang patut dicerna dan mana yang tidak," pungkas dr Andri.
Sumber : Detik.com

Posted By Renald RHK05.22